Archive for February, 2007

adam air

adamair.gif

Adam Air lagi,  baru saya kita lupa dengan misteri hilangnya pesawat adam air, eh ini malah kejadian lagi. memang tidak separah hilangnya pesawat tetapi tentunya menunjukkan ada yang salah dengan adam air ini.  Beberapa orang memberikam pendapat yang berbeda jika ditanya dalam keadaan apa yang paling menakutkan jika naik pesawat. beberapa menjawab pada saat landing , dan nggak sedikit yang menjawab pada saat take off.

aku sendiri selalu berpikir positif dan berusaha melupakannya,  apakah itu saat take off atau landing.

Add comment February 22, 2007

kejadian demi kejadian

apa yang kita temui hari ini.  apakah sama dengan yang kita temui kemarin dan yang lalu. apakah kita selalu bisa menebak apa yang akan kita temui hari ini.

pertanyaan kemudian apakah kita siap menghadapinya.

beberapa, kita bisa menduga yang akan kita temui, mungkin karena belum selesainya masalah kemarin. atau masalah yang lalu. harusnya kita lebih siap jika ini terjadi.

kebanyakan kita bersikap pura-pura siap, seakan-akan melapangkan dada, tetapi di belakang kita masih ragu-ragu. ketika ini terjadi kita tak akan pernah siap dengan yang akan kita temui hari ini

Add comment February 21, 2007

Kedamaian Hati adalah Kedamaian Sejati

Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian.
Ada banyak seniman dan pelukis berusaha keras untuk memenangkan lomba
tersebut.
Sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukainya.
Tapi, sang Raja harus memilih satu diantara keduanya.

(more…)

Add comment February 13, 2007

Segenggam Gundah (Ode untuk Para Ayah)

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah. “Yah, beras sudah habis loh…,” ujar isterinya. Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, “Ayah, besok Agus harus bayar uang praktek.”

“Iya…,” jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

(more…)

Add comment February 13, 2007

jadilah pelita

Jadilah Pelita

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya.
Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.
Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja
buat saya! Saya bisa pulang kok.”

(more…)

Add comment February 13, 2007

di suatu pagi

terbangun di pagi hari, jarum jam pendek masih betah di angka empat, sperti enggan beranjak. pelan-pelan berdetak, bunyinya menjajah ruangan.

tersadar harus bersegera bersiap, ku nyalakan hari ini, hari yang bukan baru lagi. masih ada sesuatu yang harus diselesaikan, bukankah hidup meminta untuk itu.

tak berdetak, jarum jam melangkah, selamat tinggal angak empat,

selamat datang pagi

Add comment February 12, 2007

“Shi Sang Chi You Mama Hau”

 

Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

(more…)

Add comment February 9, 2007

bencana atau peringatan

setiap  bencana terjadi selalu saja ada pertanyaan ” apakah ini bencana atau peringatan dari TUHAN?”

Bagaimana kita menyikapinya?

Semua ajaran agama mengajarkan bahwa segala sesuatu permasalahan yang terjadi pada mahlukNYA dari detik ke menit ke jam tiap harinya adalah kehendakNYA. Tetapi kemudian muncul pertanyaan kenapa sampai TUHAN berbuat demikian? Apakah kita nggak boleh bertanya demikian pada TUHAN?

Pemikiran lainnya adalah TUHAN pasti punya maksud lain dengan semua itu. Dan sebagai mahluk yang percaya,  harusnya kita percaya dengan semua maksud TUHAN.  Tinggal akal sehat yang harus berperan di sini….

Semuanya ada sebab dan akibat. Jadi Bencana ini akibat TUHAN atau sebab MANUSIA?

1 comment February 8, 2007

puisi banjir

Sobron Aidit :

B A N J I R

Ternyata banjir tak mungkin teratasi

hanya dengan kata-kata dan janji

haruslah dengan tekad-kerja-keras dan perbuatan

bukan ketika menghadapi pemilihan gubernur dan walikota.

Betapa banyak gubernur dan walikota datang dan pergi

silih berganti

dan banjir selalu datang setiap tahun

betapa sulit buat mengusirnya pergi.

Banjir tidak hanya menggenangi kota

jalanan – dan perumahan serta perkotaan

tapi juga menderaikan airmata kehidupan

hilangnya pekerjaan – perumahan dan atap buat berlindung.

Mengapakah bapak-bapak tidak mau belajar

mengambil pengalaman yang sudah puluhan tahun

banjir itu pasti datang setiap musim hujan

tidak perlu menunggu bapak-bapak sampai pensiun!

—————————————————————–

Paris,-   6 Februari 07,-

1 comment February 7, 2007

Gila

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gila diartikan sebagai sakit
ingatan, sakit jiwa, sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal;
tidak biasa, tidak sebagaimana mestinya, berbuat yang bukan-bukan;
terlalu, kurang ajar, ungkapan kagum; atau dapat juga berarti
terlanda perasaan sangat suka. Jadi memang pemakaian kata gila tidak
melulu identik dengan seseorang yang sakit ingatan.

Beberapa hari terakhir ini, media massa ramai memberitakan
kasus “menghilangnya” pesawat Adam Air rute Surabaya-Manado yang
belum ditemukan. Nasib 102 penumpang dan awak pesawat itu hingga kini
masih tak tentu rimbanya. Ketika dikabarkan pesawat Adam Air jatuh di
Desa Rangoan, Sulawesi Barat, semua perhatian segera mengarah ke
lokasi tersebut. Informasi ini sulit untuk tidak dipercaya, karena
cukup detail. Ketika teman saya tahu bahwa informasi tersebut hanya
hoax belaka, ia hanya bisa bergumam, “Gila!”

Ditujukan kepada apa atau siapa ungkapan tersebut, saya tidak tahu.
Apakah ditujukan kepada orang yang menyebarkan berita bohong tersebut
atau kepada pemerintah yang percaya mentah-mentah berita tersebut
tanpa perlu melakukan check and recheck terlebih dulu? Dan ketika
membaca ulasan di media yang memberitakan bujet perawatan pesawat
dibikin cekak untuk menaikkan keuntungan bisnis mereka, dus,
keselamatan penumpang diabaikan, lagi-lagi teman saya menggumam untuk
yang kedua kalinya, “Gila!”

Pada akhir 2006, kita dikejutkan oleh berita keterlambatan pengiriman
katering jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Sekitar 200 ribu
anggota jemaah haji asal Indonesia harus menahan lapar lebih dari 30
jam. Sepanjang sejarah pengelolaan haji yang sudah dilakukan
pemerintah selama berpuluh tahun, baru kali inilah manajemen
kateringnya amburadul. Teman saya pun tak bisa tidak untuk
berkomentar “gila!” untuk kasus ini.

Ketika rakyat di beberapa daerah terpaksa makan nasi aking hanya
untuk sekadar bertahan hidup, pada saat yang bersamaan diberitakan
gaji para anggota DPRD naik sebesar dua kali lipat dari sekarang. Hal
itu terjadi setelah Presiden Yudhoyono menandatangani Peraturan
Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 pada November lalu. Peraturan tersebut
mengamanatkan dua tambahan tunjangan bagi anggota DPRD, yaitu
tunjangan komunikasi intensif dan dana operasional.

Kenaikan gila-gilaan dialami ketua dan wakil ketua DPRD. Selain
mendapatkan tunjangan komunikasi intensif sebesar Rp 9 juta, ketua
DPRD masih mendapatkan dana operasional yang mencapai Rp 18 juta,
sedangkan wakil ketua mendapat dana operasional Rp 9,6 juta! Banyak
orang kemudian geleng-geleng kepala dan kembali saya mendengar (bukan
hanya satu) orang berkomentar, “Gila!”

Dari hari ke hari, kita disuguhi berita-berita yang tidak hanya dapat
membuat kita mengurut dada, tapi juga sering mendorong kita untuk
berkomentar, “Gila!” Cerita getir memilukan (bahkan kadang memalukan)
dari berbagai pelosok negeri ini datang silih berganti. Masyarakat
pun cenderung bersikap permissiveness. Hari ini menjadi headline,
esok hari sudah tidak dibicarakan atau bahkan dilupakan.

Kondisi ini tampak diperparah dengan makin bertambahnya jumlah
penganggur di Indonesia. Dalam penelitiannya, Profesor M. Harvey
Brenner dari Universitas John Hopkins mengemukakan, untuk setiap
kenaikan 1 persen angka pengangguran, tercatat kenaikan 1,9 persen
penyakit jantung, 4,1 persen bunuh diri, dan 4,3 persen pasien baru
di rumah sakit jiwa. Jangan-jangan, dengan “kegilaan” yang melanda
republik ini, persentase dari hasil studi Brenner bisa berubah.

Ketua Konvensi Nasional Kesehatan Jiwa Ontoseno menuturkan gejala
sakit jiwa yang dialami penderitanya, antara lain mudah melakukan
kekerasan seperti membakar atau menggebuki pencuri sampai mati,
manipulatif, cuek, serta tidak mengenal apa yang baik dan buruk. Dan
hal tersebut terjadi di semua lapisan masyarakat. Satu bait ramalan
Jayabaya, “sungguh zaman sedang gonjang-ganjing, menyaksikan zaman
gila, tidak ikut gila tidak dapat bagian”, bisa jadi menggambarkan
keadaan bangsa kita saat ini: kalau tidak ikut gila, kita tidak
kebagian. Kalau memang demikian halnya, sungguh malang negara ini.
Jelas ada sesuatu yang salah di negeri ini, tapi dari mana kita
hendak memulai mengurai benang kusut ini?

Tak usah lagi mengurusi hal-hal remeh-temeh. Banyak persoalan besar
yang perlu diselesaikan di negeri ini: bencana lumpur Lapindo,
potensi pandemi flu burung, berbagai peraturan daerah yang tumpang-
tindih, lemahnya daya tarik investasi asing, krisis energi yang
berimpak pada ketahanan nasional, reformasi birokrasi yang belum
menyentuh lembaga yudikatif, dan segepok masalah besar lain yang
masih menunggu.

Bahkan Presiden Yudhoyono berjanji tak akan lagi melakukan kompromi
dalam mengambil keputusan yang menyangkut rakyat. Berbagai masalah
yang merundung negara ini memang membutuhkan tindakan cepat, tegas,
dan nyata–seperti dijanjikan Presiden dalam pidato sambutannya pada
acara ulang tahun ke-69 kantor berita Antara. Dalam konteks ini,
sudah sewajarnya jika Presiden bertindak cepat sehingga bisa
mengundang komentar, “Wah, gile bener, Presiden sudah bongkar
kabinet, tak ada kompromi lagi rupanya dengan parpol,” atau mungkin
komentar lain yang tidak kalah gilanya: “Gila benar, kapan SBY ada
waktu istirahat kalau sampai akhir pekan pun masih mengurus tugas
negara.”

Francis Fukuyama dalam bukunya, Trust, mengingatkan kita, langkah apa
pun tak akan cukup untuk menyelesaikan masalah suatu bangsa tanpa
 adanya trust, jaminan rasa aman. Sesungguhnya yang diperlukan saat
ini adalah kerelaan para pemimpin dan elite untuk saling mendengar,
mengakhiri perdebatan, dan mencari jalan keluar terbaik buat
menyelamatkan bangsa dari kehancuran. Para pemimpin harus duduk
bersama dan mendengarkan aspirasi masyarakat. Dan yang tak kalah
penting, pemimpin haruslah memberi contoh teladan yang baik bagi
rakyatnya. Panutan harus dimulai dari atas. Tanpa itu semua, jangan
harap bangsa ini keluar dari situasi gila seperti saat ini.

Sumber: Gila! oleh Sonny Wibisono (Koran Tempo – Sabtu, 27 Januari
2007)

Add comment February 7, 2007

Previous Posts


 

February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Archives

Blogroll

a

My Gallery

alya_color

alya_black

alya_black1

alya-5

alya5

anak2

alya6

abiyu1

3an

black

More Photos